ANGGAPAN SIAL DALAM ISLAM: WASPADA SYIRIK TERSEMBUNYI

Share articles

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَن رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ عَنْ حَاجَتِهِ، فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barang siapa yang diurungkan dari hajatnya karena thiyarah (anggapan sial), maka sungguh ia telah berbuat syirik.”

📚 Sumber : HR. Ahmad, dinilai shahih dalam Shahih al-Jami’, no. 6264


Penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahu ta‘ala,

أي: شركا أكبر إن اعتقد أن هذا المتشاءم به يفعل ويحدث الشر بنفسه، وإن اعتقده سببا فقط فهو أصغر؛ لأنه سبق أن ذكرنا قاعدة مفيدة في هذا الباب، وهي: (إن كل من اعتقد في شيء أنه سبب ولم يثبت أنه سبب لا كونا ولا شرعا، فشركه شرك أصغر؛ لأنه ليس لنا أن نثبت أن هذا سبب إلا إذا كان الله قد جعله سببا كونيا أو شرعيا، فالشرعي: كالقراءة والدعاء، والكوني: كالأدوية التي جرب نفعه

“Yakni, syirik akbar apabila seseorang meyakini bahwa hal yang dianggap sial itu sendiri yang menciptakan atau menyebabkan terjadinya keburukan. Namun jika ia meyakininya hanya sebagai sebab (bukan pelaku langsung), maka ia terjatuh dalam syirik kecil.

Karena telah kami sebutkan sebuah kaidah yang bermanfaat dalam bab ini, yaitu:

‘Setiap orang yang meyakini suatu hal sebagai sebab, padahal tidak ada bukti bahwa hal itu merupakan sebab —baik secara ilmiah maupun syar’i— maka ia telah terjatuh dalam syirik kecil.’

Dalil syar’i, seperti: membaca Al-Qur’an, doa, dan ruqyah.

Dalil kauni (ilmiah/empiris), seperti: obat-obatan yang telah terbukti secara pengalaman atau penelitian memberikan manfaat.”

📚 Sumber : Majmu’ al-Fatawa, jilid 9, hlm. 577